yazilimweb tasarim
Home / Berita / Bioling Memeriahkan Kemah Budaya Sangiran 2018
Bioling Memeriahkan Kemah Budaya Sangiran 2018

Bioling Memeriahkan Kemah Budaya Sangiran 2018

Bioskop Keliling (Bioling) kembali diputar guna memberikan informasi dan pengetahuan tentang Sangiran melalui film. Kali ini, bioling menyasar generasi milenial pada acara Kemah Budaya Sangiran yang diadakan di Lapangan Dusun Ngampon, Desa Krikilan, Kalijambe, Sragen pada hari Kamis 18 Oktober 2018.
Generasi milenial ini merupakan anggota pramuka putra dan putri dari beberapa sekolah tingkat SMA/ SMK yang berada di sekitar Situs Sangiran. Tujuan diadakan Kemah Budaya Sangiran adalah untuk memperkenalkan Saka Widya Budaya Bakti (SWBB) yang belum lama terbentuk kepada peserta perkemahan. Hal ini dinilai tepat dengan menghadirkan bioling untuk memeriahkan sekaligus memperkenalkan Sangiran pada para peserta.
Dengan pemutaran bioling, akan memberikan informasi dan pengetahuan melalui audio visual sehingga mudah diserap oleh peserta. Untuk itu, tim boiling menyiapkan film-film tentang Sangiran sehingga peserta yang menonton dapat menyerap informasi dan pengetahuan secara cepat dan menarik. Film bertemakan “Balung Buto” yang populer di masa lalu dan menjadi mitos bagi masyarakat di Sangiran kala itu diputarkan.


Film berjudul “Golek Balung Buto” mengawali bioling yang disambut antusias para penonton yang sebagian merupakan peserta perkemahan. Film ini mengisahkan “petualangan” 3 orang anak usia SD yang akhirnya menemukan kebesaran Sangiran. Petualangan ini berakhir dengan pengetahuan dan informasi tentang Sangiran yang diterima ketiga anak itu.
Film kedua berjudul “Telaga Asa” mengisahkan cerita Sangiran diawal peneliti asing datang. Peneliti bekerjasama dengan masyarakat lokal untuk melakukan penelitian dan kolaborasi ini akhirnya dapat mengenalkan Sangiran pada dunia. Pada awal kedatangan peneliti asing ke Sangiran, masyarakat masih berpegang teguh pada mitos Balung Buto, fosil-fosil yang berserakan di tengah masyarakat merupakan tlang raksasa yang terbunuh dalam sebuah peperangan besar.
Film ketiga merupakan sebuah kisah anak yang keranjingan dengan gawai sehingga kurang bisa berinteraksi dengan lingkungan. Setelah diajak sang kakek ke Museum Sangiran dan bertemu dengan kisah Balung Buto, dimana dikisahkan kepahlawanan Raden Bandung memerangi angkara murka. Raden Bandung berperang membela rakyat kecil dan berhasil memenangi peperangan melawan raksasa pimpinan Tegopati.
Film yang diputar akan memberikan pada penonton tentang masa lalu di Sangiran yang dapat dimanfaatkan di masa kini. Manfaat itu bisa didapat oleh penonton yang sebagian besar merupakan generasi milenial, mengenalkan mereka pada kebesaran Sangiran yang akhirnya dapat memperkuat pendidikan karakter. (Wiwit Hermanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*