yazilimweb tasarim
Home / Berita / Melalui Film dan Sajian Koleksi, Rombongan SD Brajan Berkenalan dengan Sangiran
Melalui Film dan Sajian Koleksi, Rombongan SD Brajan Berkenalan dengan Sangiran

Melalui Film dan Sajian Koleksi, Rombongan SD Brajan Berkenalan dengan Sangiran

Dalam rangka memberi pembelajaran bagi siswa didik, SD Brajan, Bantul, Yogyakarta mengadakan Pembelajaran Luar Sekolah di Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan. Kunjungan dalam rangka Pembelajaran Luar Sekolah ini dilaksanakan pada hari Kamis, 22 November 2018 dengan 72 orang siswa serta guru pendamping.
Di awal kunjungan ini, rombongan diajak menonton film tentang Sangiran yang berjudul “Golek Balung Buto”. Para siswa dan guru pendamping terlihat antusias menyaksikan film ini yang tokohnya merupakan anak seusia mereka. “Terima kasih atas sambutannya pada kami, kami sudah 2 kali kemari tapi baru kali ini disuguhi film seperti ini. Bagus dan mendidik serta mudah dipahami, terutama oleh para siswa”, ungkap Muginah, M.Pd selaku Kepala Sekolah.


Film ini bertujuan untuk mengungkap museum serta cerita masyarakat sebelum para peneliti berdatangan ke Situs Sangiran. Cerita ini dikenal dengan Legenda Balung Buto. Dalam film ini, dikisahkan 3 orang sahabat yang masih sekolah tingkat SD bernama Lintang, Bagas, dan Pratiwi menemukan dompet yang membawa mereka ke Sangiran. Ketiga anak itu “terdampar” di Sangiran, jauh dari rumah mereka di Boyolali dan kemudian ditolong seorang karyawan museum yang mengajak mereka memahami Situs Sangiran melalui museumnya.
Karyawan ini membawa temuan-temuan fosil manusia purba yang baru saja ditemukan dari lapangan. Dalam perjalanan menuju museum bersama ketiga anak tersebut, mereka mendengar melalui berita di radio yang meminta masyarakat waspada akan penculikan anak. Hal tersebut membuat ketiga anak ini merasa tidak percaya pada karyawan museum yang berniat menolong mereka sehingga ketiga anak itu lari dan tanpa sadar berkeliling ruang pamer Museum Sangiran. Di ruang pamer ini mereka melihat banyak patung yang mereka anggap sebagai manusia yang diawetkan.
Di akhir film, ketiga anak itu diberi pemahaman tentang koleksi yang mereka saksikan itu hanya patung dan fosil-fosil itu merupakan fosil prasejarah. Di masa lalu, semua itu dikenal dengan mitos Balung Buto yang merupakan sebuah kisah yang dikenal pada masyarakat Sangiran.
Selain menikmati suguhan film, rombongan juga diberikan buku untuk menambah koleksi perpustakaan. “Buku ini akan bermanfaat bagi kami, siswa dapat pengetahuan sepulang dari sini. Ini anugerah bagi kami, buku ini akan saya sampaikan ke perpustakaan agar bisa dibaca para siswa”, janji Muginah.
“Tujuan kami berkunjung hari ini adalah untuk menambah pengetahuan serta menjadi ajang wisata bagi siswa sebelum ujian minggu depan”, tutur Muginah.


Kunjungan ke museum ini diharapkan agar para siswa mendapat pengetahuan dan juga wisata sehingga tidak merasa tertekan dalam proses pembelajaran. Kunjungan ini menjadi salah satu cara sekolah untuk memperkenalkan tinggalan budaya yang ada di sekitarnya. Melalui sajian koleksi di 3 ruang pamer, rombongan diperkenalkan dengan kehidupan masa lalu di Situs Sangiran. (Wiwit Hermanto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*